Trans Jaya Indonesia

5 Festival Kebudayaan di Indonesia yang Jangan Kalian Lewatkan

https://transjayaindonesia.com/5-festival-kebud…-kalian-lewatkan/

Indonesia merupakan negara yang dikenal dengan kekayaan serta beragam warisan budanya. Ciri khas yang tidak bisa jauh dari Indonesia yakni banyaknya suku, agama, ras, bahasa, adat Istiadat, seni bahkan tradisi. Banyak tradisi yang dilakukan diindonesia yang menarik perahtian para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Berikut Trans Jaya Indonesia merekomendasikan 5 festival di Indonesia yang sangat sayang untuk di lewatkan.

Dieng Cultur Festival

Dieng Cultur Festival atau biasa dikenal dengan sebutan DCF ini merupakan festival budaya yang diselenggarakan setiap tahunnya didataran tinggi dieng dimana festival ini memiliki daya tarik tersendiri sehingga banyak para wisatwan domestik maupun luar negri yang berbondong-bondong pergi ke dieng untuk ikut serta meramaikan acara festival ini. Acara ini pertama kali diadakan pada tahun 2010 dimana festival tersebut merupakan gagasan dari kelompok sadar wisata dieng yang pada awalnya diberi nama pekan budaya dieng namun pada tahun ketiga festival ini diadakan namanya diubah menjadi Dieng Cultur Festival. Festival ini memiliki berbagai runtutan acara dimana puncak acaranya akan dilakukan Ruwutan bocah rambut gimbal atau pemotongan rambut gimbal Anak berambut gimbal sendiri dipercaya sebagai titipan kiyai kolodate yang merupakan salah satu pejabat dimasa mataram islam, dimana pemotongan tersebut bertujuan untuk mengusir nasib buruk atau kesialan pada si anak gimbal tersebut. Rangkaian acara lain pada festival yang biasanya diadakan pada pertengahan tahun ini yakni terdapat jazz diatas awan atau penampilan musik jazz, ffestival film dieng, festival lampion, minum pruwaceng bersama, camping DCF, sendra tari rambut gimbal, jalan sehat, reboisasi, expo, dll. Festival ini memiliki pengaruh positif bagi masyarakat sekitar salah satuya yakni mampu menaikan taraf perekonomian masyarakat, tak hanya itu bahkan festival ini mampu menjadi penghubung dalam mempromosikan pariwisata di daerah dataran tinggi dieng.

Festival Tabut

Festival tabut merupakan tradisi khusus yang dilakukan di Provinsi Bengkulu dimana festival ini biasa diselenggarakan untuk memperingati tahun baru islam, festival turun temurun yang telah diselenggarakan sejak tahun 1685 ini pertama kali digelar oleh seseorang yang menyebarkan islam pertama kali di Bengkulu yakni syekh burhanudin atau biasa dikenal dengan nama imam senggolo. Selain menyambut tahun baru islam festival ini dilakukan untuk mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yakni Husai Bin Ali Bin Abi Thalib yang terbunuh dalam perang. Beberapa rangkaian acara dalam festival ini yakni terdapat ambik tanah yang memiliki makna bahwa manusia berasal dari tanah, cuci penja, meradai, menjara atau kegiatan berkunjung ke suatu kelompok sebagai ajang silaturahmi, arak penja, arak sorban, Gam ketika memasuki kegiatan yang disebut gam ini tidak ada kegiatan acara apapun serta masyarakat tidak diperbolehkan membunyikan alat musik hal ini dimaksudkan untuk menghormati atas kematiannya Husain Bin Ali Bin Abi Tholib, selanjutnya terdapat arak gendang, dan pucaknya yakni Tabot tebuang ritual ini dimuali dengan pelepasan bangunan tabut yang kemudian akan dibuang ke pemakaman karebala kota bengkulu. Festival ini merupakan perpaduan antara wisata budaya dengan religi dimana festival ini biasanya diselengarakan selama 10 hari dan dengan adanya festival ini dinilai mampu meningkatkan perekonomian masyarakat bengkulu.

Karapan Sapi

Karapan sapi atau disebut sebagai ajang perlombaan pacuan sapi ini menjaadi ciri khas suku madura, tradisi ini dinilai tidak jauh dari seorang ulama sumenep yang bernama syekh ahmad baidawi atau biasa dikenal dengan pangeran katandur, dimana ulama tersebut memperkenalkan cara bercocok tanam dengan sepasang bambu yang ditarik oleh dua ekor sapi. Cara bercocok tanam tersebut dikenalkan karena melihat kondisi tanah di madura yang kurang subur sehingga masyarakatnya memilih untuk beternak sapi dari pada bertani. Awalnya kirab sapi ini digelar untuk memperoleh sapi terkuat yang bisa digunakan untuk membajak sawah, namun setelah berjalannya waktu karapan sapi ini menjadi ajang perlombaan hingga saat ini dimana lomba tersebut dilakukan dengan joki yang bertugas memacu kedua sapi untuk berlari dalam lintasan sepanjang 100 meter, lomba ini biasanya dilakukan pada bulan agustus atau september. Ada beberapa jenis karapan sapi di madura yakni kerrap keni dimana kerrap keni ini merupakan ajang tingkat kecamatan atau kelurahan, kemudian juga terdapat kerrap rajah atau kerrap yang berada di tingkat kabupaten atau kota, dan yang terakhir terdapat kerrap gubeng atau kerrap dengan tingkat kerasidennan madura dimana peserta kerrap gubeng ini berasal dari para pemenang kerrap rajah. Selain ketiga kerrab tersebut juga terdapat bebrapa jeis karapan sapi lainnya seperti kerrap onjangan atau undangan dan kerrap ajar-ajaran atau latihan.

Upacara Tabuik

Upacara tabuik atau biasa disebut sebagai pesta tabuik, tabuik ini berasal dari kata at-tabut yang memiliki arti keranda atau tempat untuk meletakan mayat. Upacara tabuik ini diselenggarakan untuk memperingati atas terbunuhnuya seorang imam yang begitu dikagumi bagi sekelompok syiah. Selain itu tradisi ini juga masih berkaitan erat dengan meninggalnya cucu nabi dalam perang karbala yakni Husain Bin Ali Bin Abi Tholib. Upacara yang diselengarakan di paraiman sumatera barat ini memiliki 3 makna, dimanma gerakan-gerakan yang ditampilkan selama proses upacara tabuik menggambarkan kekerasan saat peperangan karbala sehingga menonjolkan ekspresi kekecewaan dan duka mendalam terkait peristiwa tersebut. Tak hanya gerakannya situasi simbolik dalam upacara juga dapat dilihat dari aspek fisik atau benda-benda yang digunakan. Tradisi tabuik ini rutin dilakukan setiap tahunnya sehingga jika dahulunya danggap sebagai acara keagamaan islam syiah sekarang upacara tersebut diartikan sebagai hiburan dan atraksi kesenian untuk menarik pengunjung lokal maupun mancanegara. Bahkan upacara tersebutu telah ditetapkan sebagai objek pariwisata oleh pemerintahan kota parimanan.

Grebeng Suro

Grebeng suro ini merupakan tradisi tahunan masyarakat ponorogo dalam wujud pesta rakyat Festival yang biasa digelar pada bulan muharram ini pada awalnya merupakan kebiasaan masyarakat ponorogo yang melakukan tirakatan semalaman dengan mengelilingi kota dan berhenti di alun-alun ponorogo. Kemudian pada tahun 1987 bupati yang menjabat pada tahun tersebut melihat fenomena itu yang kemudian membuat gagasan untuk mewadahi kegiatan masyarakat ponorogo tersebut dan dieratkan dengan pelestarian budaya. Festival yang pada awalnya tradisi tersebut masih dilestarikan hingga saat ini dimana festival ini dilaksanakan bersamaan dengan hari jadinya kota ponorogo sehingga festival grebeng suro ini telah menjadi salah satu acara yang berada di dalam kalender wisata jawa timur. Festival yang erat dengan nilai seni dan tradisi ini memiliki berbagai rangkaian acara yakni pawai lintas sejarah dan kirab pusaka, larung risalah doa di telaga ngebel, serta festival reog ponorogo. Festival reog ponorogo sendiri dinilai sebagai acara puncak grebeng sura, dimana para pesertannya tidak hanya dari daerah jawa timur namun bisa juga berasal dari daerah-daerah di seluruh indonesia bahkan untuk saat ini peserta festival reog ponorogo sudah merambah ke kancah internasional.

Itulah beberapa tradisi atau fetival yang ada di Indonesia, untuk kalian yang ingin ikut serta meramaikan prosesi adat tersebuut kalian bisa mengunjungi setiap tahunnya pada bulan-bulan yang telah ditentukan agar kalian tidak melewatkan prosesi adat yang bisa menambah wawasan kalian tentang kebudayaan indonesia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *